Sunday, January 30, 2022

Cerita cinta yang tak berujung (endless love story) - Bag 1

 Putar dulu music nya ya ☝


Cerita cinta yang tak berujung...

Mungkin kalimat itu yang pas untuk mewakili perjalanan kisah itu. 

Kisah yang panjang, yang penuh dengan kebahagiaan, pilu, kebodohan, kesalahpahaman, kedamaian dan semua kata yang dapat mewakili perasaan dua insan yang entah ditakdirkan untuk bersama atau hanya menjadi bagian cerita kecil dari skenario besar sang pencipta bagi kehidupan ini. 

Ini adalah tentang mereka,

12 tahun yang lampau... 

Jakarta 2009- hari itu seperti hari-hari biasanya, wajah kota jakarta dipenuhi kebisingan oleh suara kendaraan yang berlalu lalang disetiap jalanan kota tersibuk di negeri ini. 

Langit jakarta tampak cerah dibarengi hawa panas dari terik matahari maupun asap karbon berbagai kendaraan yang memang sudah tidak asing lagi bagi orang-orang disana. 

Pagi itu tampak seorang remaja menyusuri gang setapak di pemukiman kumuh kota itu, tempat tinggalnya memang tidak terlalu jauh dari pasar sehingga dia harus melewati pasar itu setiap kali keluar atau beraktifitas lainnya. 

Aroma khas pasar sudah seperti aroma wanita impiannya, walaupun sangat menusuk baunya namun itu tidak dirasakan nya. Diibaratkan cinta yang mampu melumpuhkan tiap-tiap panca indra nya termasuk indra penciuman nya. 

Dia terus menyusuri dan memasuki setiap jalanan sempit di pasar itu, sepintas terdengar riuh suara ibu-ibu setengah memaksa sedang menawar harga belanjaan, dan disisi lain terdengar hirupikuk suara ayam maupun lainnya yang menjadi ciri khas suasana pasar. 

Halte bis adalah tujuan pertamanya dari 12 tahun perjalanan panjang, setidaknya hingga detik ini dia berada di 30 Januari 2022.


Bersambung... 

Labels: , , , ,

Friday, October 20, 2017

Siang itu tangisan kita

Sofa yang sedikit amblas busanya ini menandakan sudah tidak baru lagi, namun masih nyaman untuknya duduk melepas lelah setelah beberapa jam mengendarai motor supra pinjaman dari seorang temannya.


Saat ini ia (Arief) berada di Rumah teman juga seorang sahabat baiknya, Rina namanya.


Setiap sisi dan sudut ruangan itu nyaris tak sekilaspun terlewat dari pandangannya, terasa tak begitu asing, memang ruangan itu selalu menjadi tempat Rina menerima Arief saat berkunjung "walaupun hanya sebatas bercanda gurau".


Rina adalah adik kelas Arief di Sekolah, yang entah bagaimana awalnya mereka bisa dekat bersahabat dengan Rina dan dua orang lagi sahabat Rina yang memang satu geng dengan Rina.


Tak terasa, dua jam begitu cepat berlalu dengan banyak topik obrolan dan candaan mereka berdua yang terpotong oleh cemilan dan minum mereka yang sudah habis.


Rina pun beranjak dari kursinya


Aku ambil makanan dulu ya, biar tambah seru obrolan kita ! iapun mengangguk spontan tanpa pikir panjang.


Sesaat setelah Rina pergi meninggalkannya, pandangannya masih saja terus melihat seisi ruangan itu sampai akhirnya berhenti pada satu pintu kamar yang persis berada disebelah kiri ia duduk. Arief tau itu kamar Rina.


Rasa ingin taunyapun muncul begitu saja, sambil bergumam dalam hati "seperti apa sih kamar cewek yang suka volly sama suka manjat pohon mangga ini !".


Seketika iapun beranjak dari tempat duduknya, dengan sangat hati-hati berjalan menuju pintu itu.


Kreek... suara kecil pintu kamar saat dibuka yang membuat Arief kaget takut Rina keburu datang.


"Ternyata biasa aja, ga beda jauh dengan kamarku" gumamnya!


Namun memang ada yang beda, bau parfum itu yang biasa Rina pakai terasa jauh lebih menyengat di Kamar ini.


lagi-lagi pandangan Arief terus menyusuri setiap sisi Kamar Rina. Namun pandangannya terhenti saat melihat ada sesuatu yang mengalihkan perhatiannya yang ada diatas bantal pink dengan motif feminim milik Rina.


BERSAMBUNG . . .

Labels:

Monday, September 4, 2017

Berhuznuzhon pada Allah (Optimis)

Mengeluh memperkeruh suasana, tidak hanya pada diri sendiri, orang  disekeliling, atau orang yang kita sayangi. Melainkan hubungan kita dengan Allah subhanahu wa ta'ala Tuhan sang pencipta Alam semesta beserta seluruh isinya ini.

Kenapa demikian?

Orang yang mengeluh cenderung tidak ikhlas menerima takdir, padahal tanpa disadari hanya sedikit kesakitan yang ia rasakan padahal begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan. Nafas ini, oksigen yang masih kita hirup dengan cuma-cuma, Gerak, peka, rangsangan dari setiap panca indra yang masih aktif normal.

Lalu kenapa kita masih merasa kurang ini dan itu?

Mengutip hadits sohih Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku).

Hadits ini mengajarkan bagaimana seorang muslim harus huznuzhon pada Allah dan memiliki sikap optimis bersungguh-sungguh dalam memohon.

Labels: ,

Saturday, September 2, 2017

Lawan, lawan, lawan. Bongkar, bongkar, robohkan

"Kebenaran memang butuh nyali
tak selalu harus ditutupi
jika kata tak lagi mampu dipahami
haruskah belati yang mengganti?"
-kutipan-

Kami bukanlah orang jalanan, yang dengan kekerasan mampu menawan
tetapi kami adalah orang terdidik yang berpikir cerdik namun tak licik.

Lawan, lawan, lawan...
bongkar, bongkar, robohkan...

Segala bentuk penindasan, pemerkosaan terhadap hak hak relawan.

Kami bukan robot yang diciptakan sesuai setingan, tapi kami manusia yang ingin berkembang untuk kebaikan.

Labels: ,

Sunday, August 20, 2017

Kenapa harus masalah? (Masalah dalam perspektif islam)

Masalah.
Suatu hal yang paling tidak disukai oleh setiap orang, termasuk saya sendiri. Mungkin ini latar belakang dari coretan saya kali ini yang akan sedikit mengupas tentang masalah dan mencoba memadukannya dengan nilai-nilai keyakinan (religion).

Terkadang, sebagian orang tidak bisa berpikir sehat saat terkena musibah atau masalah itu sendiri. Sekali lagi, bukan maksud merasa lebih tau tentang hal ini apalagi perihal agama, tetapi hanya sekedar saling mengingatkan khususnya untuk diri sendiri dan umumnya untuk sobat pembaca.

Masalah ini umumnya berkaitan dengan uang, dengan urusan Dunia. Walaupun memang bukan itu langkah awalnya toh ujungnya memang itu juga. Banyak hal yang masuk kategori masalah, bisa tentang keluarga (coba sebutkan, apakah ujung nya is money?), kerabat, sahabat, kerjaan, tagihan? (jangan ngutang makanya) atau kalian para jomblo yang belum direstui karena dianggap belum mapan (mapan, apakah tidak berkaitan dengan uang). Mungkin anda yang sedang salam proses hijrah dan merasa berat meninggalkan pekerjaan yang menjanjikan karena berkaitan dengan riba?
Apa yang anda takutkan?
Begitu juga dengan saya jika memang saya ada diposisi anda. (Sekali lagi, akan dipadukan dengan hukum-hukum agama). Mungkin anda yang sudah mengenal sunah, yang sudah tau anjuran memelihara janggut dan mencukur kumis tetapi kantor melarang untuk keduanya, terlebih lagi untuk janggut, dan jika anda tidak mengindahkan aturan itu, ancaman apa yang akan anda dapatkan dari kantor? sekali lagi saya katakan ujungnya adalah uang. Jika kita bicara uang ini sudah pasti tentang duniawi dan tentunya kita ini bukanlah seorang atheis yang percaya kehidupan ini terjadi begitu saja, lalu mati, membusuk hingga menjadi tanah dan selesai begitu saja. Kita percaya (muslim) adanya takdir.

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“… Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi”[3]

Setiap orang menganggap masalahnya paling besar, padahal nyatanya tidak. Mungkinkah kita yang tidak tau rasa bersyukur?

Selain dari itu, masalah/musibah ini sebagai teguran juga, apa kita banyak melakukan maksiat kepada Allah, tidak menjalankan perintah-perintahnya? Coba ingat-ingat, sudahkah saat mendengar suara adzan langsung bergegas meninggalkan aktivitas dan menuju Masjid (laki-laki)? apa jawabannya belum atau tidak? Berarti kita sama.

Apa yang kita takutkan dengan masalah? Bukankah apa yang terjadi dengan kita sampai detik ini sudah ditulis di lauhul mahfudz lima puluh ribu tahun sebelum Langit dan Bumi ini diciptakan.

Allah SWT berfirman: (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155)

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَالْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ  الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ۗ  وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,"

Coba kita buka
(QS. Al-Insyirah 94: Ayat 5)

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا 

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,"

Bahkan sampai diulang di ayat berikutnya (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 6)

اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا 

"sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."

Tidak hanya sampai disini, dan rasanya tidak perlu kata-kata motivasi dari motivator terkenal untuk membangkitkan gairah, emosi (positif) yang hanya mengandalkan logika yang pada dasarnya setiap orang waras pasti tau mana baik dan mana yang tidak. Tapi apa yang Allah sampaikan, baik itu di Al - Qur'an maupun di Hadits sohih akan lebih tertanam, mengakar di dalam hati dan tidak akan ada lagi keraguan untuk meyakininya.

“Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya”. (HR. Muslim no. 2573).

Sebagian dari ribuan hadits sohih yang menjelaskan tentang hal ini.

Kita hanya perlu mendekatkan diri kepada sang maha pencipta, sabar dan berdoa, sabar bukan diam, pasrah tanpa tindakan.

"Semoga segala musibah yang menimpa kita adalah sebagai penghapus dosa dan apa yang kita tinggalkan (karena Allah 'azza wa jala) Allah gantikan dengan yang lebih baik".

Labels: ,